Scroll untuk baca artikel
3090FF34-AFC8-4290-8D9B-58132328537B-4.png
Example floating
Example floating
3090FF34-AFC8-4290-8D9B-58132328537B-4.png
Berita

Di Balik Kobaran Api, Tangis Seorang Ayah yang Kehilangan Istri dan Empat Buah Hati

8
×

Di Balik Kobaran Api, Tangis Seorang Ayah yang Kehilangan Istri dan Empat Buah Hati

Sebarkan artikel ini

Kabaraya Bombana – Malam di Dusun Tondopi, Desa Tongkoseng, Kecamatan Tontonunu, Kabupaten Bombana, biasanya berlangsung tenang. Suara jangkrik dan semilir angin menjadi teman warga yang beristirahat setelah seharian beraktivitas.

Namun, Kamis dini hari, 6 Agustus 2026, ketenangan itu berubah menjadi malam paling kelam bagi keluarga Murdasing (61).

Sekitar pukul 03.00 WITA, kobaran api tiba-tiba membesar dari dalam rumah panggung yang selama ini menjadi tempat berteduh keluarganya. Dalam hitungan menit, si jago merah melahap hampir seluruh bagian rumah yang sebagian besar berbahan kayu.

Tak ada yang menyangka, permintaan sederhana salah seorang anak untuk menyalakan obat nyamuk bakar sebelum tidur diduga menjadi awal dari petaka yang merenggut lima nyawa sekaligus.

“Api diduga berasal dari obat nyamuk bakar. Sebelum tidur, salah satu anak saya sempat meminta obat nyamuk untuk dinyalakan,” tutur Murdasing dengan suara lirih.

Saat tersadar dari tidur, kobaran api telah mengepung rumah. Asap tebal memenuhi ruangan, sementara pintu kamar yang menjadi satu-satunya akses keluar sudah lebih dahulu dilalap api.

Dalam kepanikan, Murdasing hanya memiliki sedikit waktu untuk menyelamatkan diri. Ia menendang dinding rumah hingga berhasil keluar. Namun, usahanya untuk kembali masuk menyelamatkan keluarga tak lagi mungkin dilakukan. Api semakin ganas, menghanguskan seluruh bangunan dalam waktu singkat.

Di balik kobaran api itu, seorang suami kehilangan pendamping hidupnya. Seorang ayah kehilangan empat anak yang selama ini menjadi sumber semangatnya.

Hasna (38), sang istri, ditemukan meninggal bersama empat anak mereka, Hasriani (12), Karina (9), Nur Aisyah (6), dan Wardah (2). Lima anggota keluarga itu tak sempat menyelamatkan diri.

Sementara Murdasing bersama dua anaknya, Sindi (24) dan Arfan (30), berhasil selamat. Namun keselamatan itu harus dibayar dengan kehilangan orang-orang tercinta.

Bukan hanya nyawa yang melayang. Rumah yang dibangun dengan kerja keras selama bertahun-tahun kini tinggal puing dan arang. Dua unit mesin senso, mesin pemotong rumput, uang tunai sekitar Rp50 juta, hingga seluruh perabot rumah tangga ikut musnah dilalap api. Total kerugian diperkirakan mencapai sekitar Rp150 juta.

Pagi itu, suasana Dusun Tondopi berubah muram. Warga berdatangan membantu proses evakuasi dan memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan. Tangis pecah di antara puing-puing rumah yang masih mengeluarkan asap, menjadi saksi bisu besarnya kehilangan yang dialami keluarga tersebut.

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa musibah dapat datang tanpa diduga. Di balik sebuah rumah yang hangus terbakar, tersimpan kisah pilu tentang seorang ayah yang harus menjalani sisa hidupnya dengan kenangan akan istri dan empat anak yang tak lagi dapat dipeluknya.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *