Kabaraya Bombana — Ada perjuangan yang tidak lahir dari ambisi segelintir orang, tetapi tumbuh dari kerinduan panjang sebuah masyarakat. Di Pulau Kabaena, cita-cita untuk berdiri sebagai daerah otonom sendiri kembali dinyalakan.
Perjuangan pembentukan Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) Kabupaten Kepulauan Kabaena kini memasuki tahapan penting. Panitia persiapan terus mematangkan berbagai persyaratan, mulai dari administrasi, teknis hingga dokumen pendukung sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan harapan masyarakat Kabaena.
Rapat terbatas kembali digelar untuk memastikan seluruh dokumen yang menjadi persyaratan pemekaran telah divalidasi dan dipersiapkan secara matang. Langkah ini menjadi bagian dari persiapan menghadapi Forum Koordinasi Nasional Calon Daerah Otonomi Baru yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 15–16 September 2026.
Bagi masyarakat Kabaena, pemekaran bukan sekadar tentang perubahan nama wilayah atau lahirnya sebuah pemerintahan baru. Lebih dari itu, pemekaran dipandang sebagai jalan untuk memperpendek jarak pelayanan, mempercepat pembangunan dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk menikmati kemajuan di tanah sendiri.
Ketua Panitia Persiapan CDOB Kabupaten Kepulauan Kabaena, Iskandar, mengatakan perjuangan tersebut merupakan aspirasi masyarakat yang telah lama diperjuangkan.
Menurutnya, keinginan membentuk daerah otonom baru berangkat dari harapan agar pembangunan dan pelayanan pemerintahan dapat semakin dekat dengan masyarakat.
“Perjuangan ini bukan milik panitia semata. Ini adalah cita-cita masyarakat Kabaena yang telah lama hidup dan terus diperjuangkan,” kata Iskandar dengan gestur semangat yang dibawa dalam perjuangan tersebut.
Lebih lanjut, Sekretaris Panitia CDOB Kabupaten Kepulauan Kabaena, Ashari Usman, menegaskan bahwa perjuangan menuju daerah otonom membutuhkan kebersamaan seluruh elemen masyarakat.
Ia mengajak masyarakat Kepulauan Kabaena, baik yang berada di Pulau Kabaena, berbagai daerah di Nusantara maupun di luar negeri, untuk memberikan dukungan dan doa.
“Kami meminta dukungan dan doa seluruh masyarakat Kepulauan Kabaena yang ada di berbagai negara dan pelosok Nusantara guna mewujudkan cita-cita luhur masyarakat Pulau Kabaena.”pinta Ashari.
Seruan itu menjadi pengingat bahwa sebuah cita-cita besar tidak pernah berdiri di atas pundak segelintir orang. Ia tumbuh dari doa, kebersamaan dan keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik layak diperjuangkan.
Kepulauan Kabaena memiliki luas sekitar 804 kilometer persegi, terdiri atas enam kecamatan, dengan rentang kendali sekitar 60 mil dari Rumbia, ibu kota Kabupaten Bombana.
Jarak dan karakter geografis sebagai wilayah kepulauan menjadi salah satu alasan penting mengapa kedekatan pelayanan pemerintahan menjadi harapan masyarakat.
Kabaena bukan hanya gugusan pulau yang berada di tengah laut. Wilayah ini menyimpan potensi sumber daya alam dan kekayaan masyarakat yang apabila dikelola dengan baik, diyakini mampu menjadi modal penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Karena itu, pemekaran diharapkan bukan sekadar melahirkan struktur birokrasi baru, tetapi menjadi pintu masuk bagi pemerataan pembangunan, peningkatan pelayanan publik, penguatan ekonomi masyarakat dan terbukanya peluang kesejahteraan yang lebih luas.
Namun, jalan menuju sebuah daerah otonom baru bukanlah jalan yang pendek. Ada persyaratan yang harus dipenuhi, proses yang harus dilalui dan perjuangan yang membutuhkan kesabaran.
Di titik itulah keteguhan menjadi penting.
Sebab, perjuangan yang besar tidak selalu selesai dalam satu langkah. Kadang ia membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan lintas generasi. Tetapi selama harapan masih hidup, perjuangan tidak pernah benar-benar berakhir.
Kini, perjuangan itu kembali mengetuk pintu.
Forum Koordinasi Nasional CDOB di Jakarta pada September mendatang akan menjadi salah satu momentum penting bagi panitia untuk menyampaikan kesiapan pembentukan Kabupaten Kepulauan Kabaena.
Masyarakat Kabaena pun kembali menaruh harapan.
Harapan agar jarak tidak lagi menjadi penghalang pelayanan. Harapan agar pembangunan tidak hanya datang sesekali, tetapi tumbuh dari kebutuhan masyarakat sendiri. Dan harapan agar anak-anak Kabaena kelak dapat melihat tanah kelahirannya bukan sekadar sebagai tempat mereka dilahirkan, tetapi sebagai tempat di mana masa depan dapat dibangun.
Sebab pada akhirnya, pemekaran bukan hanya tentang membentuk sebuah kabupaten. Ia adalah tentang memperjuangkan kesempatan, mendekatkan harapan dan memastikan masyarakat di pulau-pulau tidak merasa terlalu jauh dari perhatian negara.
Dan kali ini, harapan itu kembali berlayar—membawa doa dari pulau, menyeberangi laut, menuju Jakarta, demi satu cita-cita: Kabupaten Kepulauan Kabaena. (Far)














