Scroll untuk baca artikel
3090FF34-AFC8-4290-8D9B-58132328537B-4.png
Example floating
Example floating
3090FF34-AFC8-4290-8D9B-58132328537B-4.png
Berita

Pastikan Sawah Tetap Berair di Musim Kemarau, Kadis Pertanian Bombana Monev Sumur Bor di Mataoleo

13
×

Pastikan Sawah Tetap Berair di Musim Kemarau, Kadis Pertanian Bombana Monev Sumur Bor di Mataoleo

Sebarkan artikel ini

Kabaraya Bombana – Ancaman kekeringan pada musim kemarau menjadi perhatian serius Dinas Pertanian Kabupaten Bombana. Untuk memastikan lahan persawahan tetap mendapatkan pasokan air, Kepala Dinas Pertanian Bombana, Sarif, SH, bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari turun langsung melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap keberadaan sumur bor di wilayah pertanian.

Monev tersebut dilakukan pada Kamis (1/10/2026) di Kecamatan Mataoleo. Peninjauan ini bertujuan memastikan sarana penyediaan air bagi lahan sawah dapat berfungsi secara optimal, terutama di tengah kondisi musim kemarau yang berpotensi mengganggu produktivitas pertanian.

Didampingi penyuluh pertanian setempat, Sarif bersama tim BWS Sulawesi IV Kendari mengecek secara langsung kondisi sumur bor, pompa, hingga aliran air yang dimanfaatkan untuk mengairi lahan persawahan masyarakat.

Tim Dinas Pertanian Bombana mempersiapkan diri turun lapangan.

Sarif mengatakan, ketersediaan air menjadi salah satu faktor utama yang harus dijaga untuk mempertahankan produktivitas pertanian. Menurutnya, pemerintah tidak ingin petani mengalami penurunan produksi hanya karena keterbatasan air pada saat musim kemarau.

“Kita tidak mau petani kita gagal panen hanya karena persoalan air. Karena itu, kita bersama BWS Sulawesi IV Kendari turun langsung memastikan kondisi sumur bor yang sudah dibangun. Alhamdulillah, di Mataoleo airnya masih mengalir dengan baik dan bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah di sekitarnya,” ujar Sarif.

Ia menjelaskan, pembangunan sumur bor merupakan bagian dari upaya pemerintah menghadirkan solusi terhadap persoalan irigasi, khususnya pada lahan sawah yang selama ini masih bergantung pada curah hujan.

Keberadaan sumber air dari sumur bor diharapkan mampu memberikan kepastian bagi petani dalam menentukan waktu tanam. Dengan demikian, lahan yang sebelumnya hanya dapat ditanami satu kali dalam setahun berpeluang meningkatkan frekuensi penanaman.

“Dengan adanya sumber air ini, kita berharap petani tidak hanya bergantung pada musim hujan. Ketika air tersedia, petani bisa memanfaatkan musim gadu untuk tetap melakukan penanaman. Ini yang kita dorong agar indeks pertanaman bisa meningkat, dari IP 100 menjadi IP 200 bahkan kalau memungkinkan IP 300,” jelasnya.

Menurut Sarif, peningkatan indeks pertanaman bukan hanya berdampak terhadap produktivitas lahan, tetapi juga berpotensi meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Karena itu, sarana pendukung seperti sumur bor harus dipastikan tidak berhenti hanya pada tahap pembangunan, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Yang paling penting bukan hanya sumurnya dibangun, tetapi bagaimana airnya benar-benar sampai ke sawah dan dimanfaatkan oleh petani. Karena itu kita akan terus melakukan monitoring dan evaluasi,” tegasnya.

Sarif menambahkan, Dinas Pertanian Bombana akan terus berkoordinasi dengan BWS Sulawesi IV Kendari untuk mengevaluasi seluruh titik sumur bor yang telah dibangun di wilayah Bombana. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan pompa dapat beroperasi, debit air tetap tersedia, serta jaringan penyaluran air mampu mendukung kebutuhan lahan pertanian.

Ia juga meminta petani dan penyuluh pertanian ikut menjaga fasilitas tersebut agar dapat digunakan dalam jangka panjang. Menurutnya, sumur bor merupakan aset penting yang harus dirawat bersama karena keberadaannya berkaitan langsung dengan keberlanjutan produksi pangan.

Sementara itu, penyuluh pertanian di Kecamatan Mataoleo menyampaikan bahwa keberadaan sumur bor memberikan manfaat nyata bagi petani. Jika sebelumnya pola tanam sangat bergantung pada hujan, kini petani memiliki alternatif sumber air yang dapat membantu mengatur waktu dan pola tanam.

Kondisi tersebut menjadi peluang untuk mendorong pemanfaatan lahan secara lebih optimal sekaligus menjaga produktivitas pertanian saat musim kemarau.

Dinas Pertanian Bombana berkomitmen memperkuat sinergi dengan BWS Sulawesi IV Kendari dalam penyediaan infrastruktur air pertanian, termasuk mendorong penambahan titik sumur bor pada wilayah yang memiliki lahan pertanian rawan kekeringan.

“Harapan kita sederhana, petani tetap bisa menanam, sawah tetap mendapatkan air, dan produksi pangan tetap terjaga meskipun musim kemarau. Ini bagian dari upaya kita bersama untuk memperkuat ketahanan dan swasembada pangan di Kabupaten Bombana,” pungkas Sarif. (ADV)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *