Scroll untuk baca artikel
3090FF34-AFC8-4290-8D9B-58132328537B-4.png
Example floating
Example floating
3090FF34-AFC8-4290-8D9B-58132328537B-4.png
Berita

Kemarau Panjang, BPBD Bombana Imbau Masyarakat Waspada Karhutla

11
×

Kemarau Panjang, BPBD Bombana Imbau Masyarakat Waspada Karhutla

Sebarkan artikel ini

Kabaraya Bombana – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana mencatat sedikitnya 20 titik kebakaran sejak Agustus hingga akhir September 2026. Kondisi kemarau yang masih berlangsung membuat BPBD meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala BPBD Kabupaten Bombana, Drs. Hasdin Ratta, M.Si., mengatakan kondisi lahan dan vegetasi yang mengering selama musim kemarau meningkatkan risiko penyebaran api.

“Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, dan jangan membuang puntung rokok sembarangan karena kondisi lahan yang kering sangat mudah terbakar,” kata Hasdin.

Ia meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun kepulan asap di sekitar permukiman, lahan perkebunan dan kawasan hutan.

“Jika menemukan titik api atau kepulan asap, segera laporkan agar bisa ditangani lebih awal dan tidak meluas,” ujarnya.

Menurut Hasdin, sejumlah wilayah perlu mendapat perhatian selama periode kemarau, di antaranya Kecamatan Lantari Jaya, Rarowatu Utara, Poleang Utara dan Kabaena Utara. Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) juga menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi terdampak kebakaran.

Pada akhir Agustus 2026, kebakaran terjadi di Desa Wambarema, Kecamatan Poleang Utara. Peristiwa tersebut menghanguskan sekitar 10 hektare lahan. Berdasarkan laporan BNPB, kebakaran tersebut diduga berkaitan dengan puntung rokok yang dibuang sembarangan.

Penanganan dilakukan BPBD bersama pemerintah desa dan masyarakat untuk mencegah api meluas.

Kebakaran lainnya terjadi di Desa Watu-Watu, Kecamatan Lantari Jaya. Pemadaman dilakukan secara gabungan oleh BPBD Bombana, petugas pemadam kebakaran, personel perusahaan dan masyarakat.

Petugas kemudian melakukan pemantauan setelah api berhasil dikendalikan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api akibat bara yang masih tersisa di kawasan terbakar.

Tekanan karhutla di Bombana juga terlihat dari luas lahan yang terdampak. Data tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara mencatat luas lahan terbakar di Bombana mencapai 1.913,64 hektare pada periode Januari-Juli 2026.

Ancaman kebakaran kembali terjadi pada 27 September 2026 di kawasan TNRAW, Desa Rarongkeu, Kecamatan Lantari Jaya. Tim gabungan Manggala Agni, TNI, Polri dan BPBD melakukan pemadaman terhadap kebakaran yang diperkirakan berdampak pada sekitar tiga hektare kawasan hutan.

Hasdin mengatakan pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan masyarakat, terutama dalam menghindari aktivitas yang berpotensi menjadi sumber api.

“Pencegahan jauh lebih penting. Jangan menunggu api membesar baru dilaporkan. Kalau ada asap atau titik api, segera informasikan kepada pemerintah setempat atau petugas sehingga bisa ditangani secepat mungkin,” tegasnya.

Selain risiko kebakaran, BPBD juga mengingatkan masyarakat terhadap dampak kemarau terhadap ketersediaan air. Warga diminta menggunakan air secara bijak untuk mengantisipasi berkurangnya sumber air selama kondisi kering berlangsung.

BPBD Bombana memperkirakan kondisi kemarau masih berpotensi berlangsung hingga Oktober dan November. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan serta segera melaporkan setiap indikasi kebakaran. (Ode)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *