Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Ekonomi

Ekonomi Kalteng Awal 2026 Tunjukkan Daya Tahan, Inflasi Terkendali hingga NTP Menguat

18
×

Ekonomi Kalteng Awal 2026 Tunjukkan Daya Tahan, Inflasi Terkendali hingga NTP Menguat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kabaraya, Palangkaraya – Di tengah dinamika harga pangan, mobilitas masyarakat yang meningkat, dan geliat ekonomi pasca awal tahun, Kalimantan Tengah membuka kuartal pertama 2026 dengan sinyal yang cukup meyakinkan. Inflasi masih dalam kendali, daya beli petani membaik, neraca perdagangan tetap surplus, sementara sektor pariwisata dan transportasi menunjukkan pergerakan yang aktif meski fluktuatif.

Gambaran itu dipaparkan langsung oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, dalam Berita Resmi Statistik (BRS) edisi 1 April 2026 yang dirilis di Ruang Vicon BPS Kalteng dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube, Rabu (1/4/2026).

Example 300x600

Dalam pemaparannya, BPS Kalteng merilis lima indikator utama yang menjadi denyut pembacaan ekonomi daerah, yakni perkembangan inflasi, nilai tukar petani (NTP), perdagangan luar negeri, pariwisata, dan transportasi. Lima sektor ini menjadi cermin penting untuk membaca seberapa kokoh fondasi ekonomi daerah di tengah tekanan harga dan mobilitas yang terus bergerak.

Jika ditarik secara keseluruhan, potret ekonomi Kalimantan Tengah pada awal 2026 menunjukkan satu pesan yang cukup jelas: daerah ini masih mampu menjaga ritme stabilitasnya, meski tantangan sektoral tetap ada di sejumlah lini.

Inflasi Maret 2026 Naik, Tapi Masih Dalam Koridor Terkendali

BPS mencatat, pada Maret 2026, Kalimantan Tengah mengalami inflasi sebesar 0,54 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Sementara secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi tercatat sebesar 3,86 persen, sedangkan inflasi tahun kalender berada di angka 1,39 persen.

Secara umum, tekanan inflasi masih berada dalam batas yang dinilai terkendali. Namun, kenaikan harga pada sejumlah komoditas kebutuhan pokok tetap menjadi penyumbang utama pergerakan inflasi di daerah ini.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang andil terbesar dalam pembentukan inflasi Maret. Hal ini menunjukkan bahwa denyut konsumsi rumah tangga, terutama menjelang dan saat momentum Idulfitri, masih menjadi salah satu motor penggerak utama tekanan harga.

Sejumlah komoditas yang tercatat dominan mendorong inflasi antara lain beras, cabai rawit, ikan nila, dan bensin. Kenaikan harga beras, misalnya, dipengaruhi oleh kondisi pasokan yang belum sepenuhnya masuk masa panen. Di saat yang sama, permintaan masyarakat cenderung meningkat seiring momentum hari besar keagamaan.

Di sisi lain, laju inflasi sempat tertahan oleh beberapa komoditas yang mengalami pergerakan lebih jinak, seperti daging ayam ras dan emas perhiasan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa struktur inflasi di Kalimantan Tengah masih sangat dipengaruhi oleh faktor musiman, distribusi pasokan, serta penyesuaian harga energi, termasuk kenaikan harga BBM non-subsidi yang ikut memberi tekanan pada biaya konsumsi masyarakat.

Meski demikian, angka inflasi yang tercatat masih menggambarkan satu hal penting: Kalteng belum berada dalam situasi tekanan harga yang mengkhawatirkan.

Nilai Tukar Petani Menguat, Sinyal Positif dari Akar Ekonomi Rakyat

Di tengah pergerakan harga yang terus berubah, kabar baik datang dari sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Tengah pada Maret 2026 tercatat sebesar 137,75, atau naik 1,04 persen dibandingkan posisi Februari 2026.

Kenaikan ini menjadi indikator penting karena NTP merupakan salah satu ukuran utama untuk melihat tingkat kesejahteraan petani. Semakin tinggi NTP, semakin besar pula kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan konsumsi dan biaya produksi rumah tangga mereka.

Peningkatan NTP pada Maret 2026 terutama ditopang oleh perbaikan pada sejumlah subsektor, seperti tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat.

Bagi daerah seperti Kalimantan Tengah yang masih sangat ditopang oleh sektor primer, penguatan NTP bukan sekadar angka statistik. Ia adalah sinyal bahwa urat nadi ekonomi masyarakat bawah masih berdetak kuat, dan daya tahan ekonomi pedesaan belum kehilangan tenaganya.

Ketika petani mampu menjaga daya beli, maka efek lanjutannya akan merembes ke sektor lain: konsumsi rumah tangga tetap bergerak, aktivitas pasar lokal hidup, dan ekonomi daerah tidak kehilangan pijakan dari bawah.

Ekspor Tetap Perkasa, Batu Bara Masih Jadi Panglima

Dari sektor perdagangan luar negeri, Kalimantan Tengah masih menunjukkan karakter ekonominya yang kokoh sebagai daerah penopang ekspor berbasis sumber daya alam.

Sepanjang Januari hingga Februari 2026, nilai ekspor Kalimantan Tengah tercatat mencapai 558,03 juta dolar AS. Angka ini menegaskan bahwa Kalteng masih menjadi salah satu daerah yang punya posisi strategis dalam rantai perdagangan global, terutama melalui sektor pertambangan.

Komoditas yang paling dominan menopang ekspor daerah ini masih berasal dari batu bara, yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung utama penerimaan perdagangan luar negeri.

Adapun negara tujuan utama ekspor Kalimantan Tengah meliputi Jepang, India, dan Korea Selatan. Tiga negara tersebut menunjukkan bahwa produk ekspor Kalteng masih memiliki pasar kuat di kawasan Asia, khususnya untuk kebutuhan energi dan bahan baku industri.

Sementara itu, dari sisi impor, nilainya tercatat relatif lebih kecil. Komoditas yang masuk ke Kalimantan Tengah didominasi oleh mesin/peralatan mekanik serta bahan bakar mineral.

Kondisi ini membuat neraca perdagangan Kalimantan Tengah tetap berada di jalur positif, dengan surplus sebesar 4,72 juta dolar AS.

Surplus ini penting dibaca bukan hanya sebagai capaian teknis perdagangan, tetapi juga sebagai penanda bahwa Kalteng masih mampu menjual lebih banyak ke luar daripada yang dibelanjakan dari luar. Dalam lanskap ekonomi daerah, ini adalah indikator yang menunjukkan ketahanan dan produktivitas sektor unggulan masih terjaga.

Pariwisata Bergerak, Wisatawan Domestik Masih Jadi Andalan

Pada sektor pariwisata, BPS juga mencatat pergerakan yang cukup aktif, terutama dari sisi wisatawan nusantara.

Selama Februari 2026, jumlah perjalanan wisatawan nusantara asal Kalimantan Tengah tercatat sebanyak 842.414 perjalanan, sedangkan jumlah perjalanan menuju Kalimantan Tengah mencapai 867.864 perjalanan.

Angka ini menunjukkan bahwa mobilitas wisatawan domestik masih menjadi motor penting bagi sektor jasa dan ekonomi lokal. Kalimantan Tengah tidak hanya menjadi daerah yang warganya aktif bepergian, tetapi juga tetap menjadi tujuan perjalanan dalam negeri yang cukup signifikan.

Dari sisi akomodasi, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Kalimantan Tengah tercatat sebesar 38,95 persen, sedangkan hotel nonbintang berada di angka 20,68 persen.

Sementara itu, jumlah tamu yang menginap di hotel bintang tercatat sebanyak 34.713 orang, dengan dominasi yang masih diisi oleh wisatawan domestik.

Meski belum menunjukkan lonjakan besar, data ini memperlihatkan bahwa sektor perhotelan dan perjalanan di Kalimantan Tengah masih bergerak dan memiliki basis permintaan yang cukup terjaga. Dalam konteks ekonomi daerah, pariwisata tetap menjadi sektor penting yang menopang konsumsi jasa, usaha akomodasi, hingga perputaran ekonomi pelaku UMKM.

Transportasi Udara dan Laut Tetap Sibuk, Mobilitas Masyarakat Masih Tinggi

Di sektor transportasi, geliat mobilitas masyarakat Kalimantan Tengah juga tercermin cukup jelas. Pada Februari 2026, jumlah penumpang angkutan udara tercatat sebanyak 100.495 orang.

Angka itu ditopang oleh 1.146 penerbangan, yang menandakan bahwa konektivitas udara masih menjadi tumpuan penting bagi pergerakan orang dan aktivitas ekonomi di provinsi ini.

Sementara pada jalur laut, jumlah penumpang tercatat mencapai 24.166 orang, dengan 856 kunjungan kapal selama periode yang sama.

BPS mencatat, secara umum memang terjadi fluktuasi baik pada jumlah penumpang maupun volume barang dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, pergerakan ini tetap menunjukkan bahwa infrastruktur mobilitas orang dan logistik di Kalimantan Tengah masih bekerja aktif menopang aktivitas ekonomi dan distribusi antarwilayah.

Dalam konteks daerah yang memiliki tantangan geografis luas seperti Kalimantan Tengah, sektor transportasi bukan sekadar urusan perpindahan. Ia adalah urat distribusi ekonomi, penghubung antaraktivitas usaha, sekaligus indikator penting tentang seberapa hidup denyut pergerakan masyarakat dan barang.

Awal Tahun yang Menjanjikan, Tapi Tetap Butuh Kewaspadaan

Secara keseluruhan, data yang dirilis BPS menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Kalimantan Tengah pada awal 2026 masih berada dalam fase yang relatif stabil dan terjaga.

Inflasi memang bergerak naik, tetapi masih dalam batas terkendali. Kesejahteraan petani menunjukkan penguatan. Ekspor tetap solid dan neraca perdagangan masih surplus. Sektor pariwisata dan transportasi pun tetap aktif, meski belum sepenuhnya melesat.

Ini adalah kombinasi yang memberi pesan optimistis bahwa fondasi ekonomi Kalimantan Tengah masih cukup kuat menghadapi tekanan jangka pendek, baik dari faktor musiman, distribusi, maupun dinamika global.

Namun demikian, stabilitas ini tentu tidak boleh dibaca sebagai ruang untuk lengah. Tantangan seperti fluktuasi harga pangan, ketergantungan pada komoditas tambang, hingga dinamika permintaan jasa dan mobilitas tetap perlu diawasi dengan cermat.

Sebab dalam peta ekonomi modern, daerah yang kuat bukanlah daerah yang tak pernah diguncang, melainkan daerah yang mampu tetap berdiri tegak di tengah perubahan.

Dan sejauh ini, Kalimantan Tengah tampak masih punya tenaga, ritme, dan fondasi untuk menjaga lajunya tetap stabil.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *